Tuesday, October 22, 2013

Bayangan Yang Berkelebat Itu Masih Saja Bisa Aku Ingat

Biar aku ingat-ingat. Rasanya baru kemarin aku berteriak kegirangan pada Catherina saat kau tersenyum kepadaku. Rasa senang ini membuncah, meledak ke segala arah. Senyum pertamamu kepadaku membuat mendung hari itu begitu cerah. Rasanya masih jelas teringat saat aku memeluk May dengan erat karena aku berhasil berbincang sejenak denganmu. Aku bahkan berhasil mendapatkan nomor telepon langsung dari mu meski jujur saja aku sudah memilikinya dan tersimpan dalam handphone ku. Rasanya bahagia sekali saat kita akhirnya hangout bersama. Menonton film di bioskop di akhir pekan meski kita melewatinya bersama teman-teman. Aku menyimpan potongan tiket film itu layaknya benda berharga yang tak mungkin aku buang begitu saja. Teringat pula perasaan marah yang tak bisa aku luapkan saat aku tahu kau menyukai Mayang. Aku hanya bisa terisak menangis di kamar Vania tanpa bisa memberikan penjelasan yang baik padanya atas perasaan absurd yang aku miliki ini. Aku kesal padamu yang mulai hobby menceritakan Mayang padaku. Hanya bisa marah-marah di Kamar Indri memakimu yang tak mengerti perasaanku. Tapi siapa sangka, Mayang itu akhirnya jadian dengan Adrian senior kita yang anggota Senat itu. Aku senang diatas kesedihanmu, yang membuatmu semakin dekat denganku.

Enam bulan, waktu yang aku lewati dengan segala perasaan yang berkecamuk itu. Meluapkan semua emosi selama setengah tahun terakhir pada empat orang teman yang berbeda. Setiap berinteraksi dengannya membuat perasaanku berubah-ubah seperti cuaca. Aku masih bisa mengingat semuanya seolah baru kemarin aku mengalaminya. Aku sungguh menikmatinya, menikmati setiap detiknya.
Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence