Monday, August 19, 2013

Selected Journals

"Dear love! How are you? I guess you're pretty fine even now 'We' are no longer 'You and I'. Who is your victim now? Don't play too much remember! You'll be mocked and cursed."

Here I am, sharing part of my journal. I don't write it daily for sure, indeed I just hate the fact that it will be dust unless I share it publicly in my own blog. I share whatever I feel good with it and consider that some statements are quite good.

"Sepertinya aku sedang kalut hari ini. Ketidakmampuanku sekarang tampak begitu nyata dan mengerikan. Rasanya seperti seumur hidup ini aku tak pernah merasa bahagia. Sepertinya rasa bahagia itu telah lenyap, terhisap lubang hitam yang tak kasat mata. Aku memang harus segera melakukan sesuatu. Tapi guratan takdir itu sepertinya digurat oleh pemahat maestro. Takdirku dipermainkan dalam lekukan-lekukan halus yang ditorehkan pisau tajam terukir mulus di permukaan hatiku. Terlalu menyakitkan saat kusadari pisau itu telah seenaknya mengikis dan mencungkil hatiku sesukanya. Aku linglung dan terlalu bingung bagaimana mengobatinya. Luka yang terlalu sakit untuk dipelihara dan telalu indah untuk dibiarkan begitu saja."

Don't get me wrong. They are writings of mine in one of my agendas. When I was super-hurt I wrote a lot. Even though I didn't make it daily.
If you feel interested in reading for further, please scroll down. If you don't, just leave this blog in peace.

"Sungguh sangat lucu. Tak ayal aku juluki dia lelucon terbaik sepanjang masa. 'CINTA' satu kata yang seringkali diagung-agungkan oleh umat manusia -- berhasil membuatku terpana, terperangah, tertawa, menangis dan bersorak penuh suka cita. Bagaimana bisa kata sederhana itu membuat hidupku jungkir balik dalam hitungan detik? Apa kata itu memiliki daya magis? Atau jangan-jangan kata itu adalah sebuah hipnotis? Jujur saja, 'CINTA' sering kali membuatku tertawa seperti tak pernah merasakan derita; tertawa karena orang yang dicinta tertawa; tertawa karena bersama orang yang dicinta; tertawa karena tipu daya cinta. Ya, aku tertawa, mentertawakan cinta, seorang komedian kawakan yang sukses membuatku tertawa dalam bayang semu yang tampak nyata."
That pharagraph defines 'love' in my perspective when I was (in)sane. AGAIN, please don't get me wrong. I am not that dark. The writing itself is affected by the emotion when I was writing that. Indeed, I still found some writings when I was in love. I'll share one here:
"... Sebaiknya aku sapa dia! Akan mudah jika kita bertemu saja. Biar aku traktir eskrim seperti biasa. Tapi ternyata tidak bisa. Melihat sosoknya saja aku gugup dibuatnya. Tiga tahun tak berjumpa tak kusangka perasaan ini masih ada. Tidak bisa. Aku tak bisa menemuinya."
Hahaha, pretty crapy. I was laughing so loudly everytime I read such thing in my agenda.



Share:

0 comments:

Post a Comment

Free to speak up is still under circumstances, no violence