Tukar
Aku muak padanya. Aku tidak pernah mengatakannya keras-keras. Tidak pernah. Kalimat itu hidup diam-diam, terselip di tenggorokan Lihat dia. Tertawa terlalu keras, menggelegar, seolah seluruh ruangan hanya miliknya. Sepupu-sepupuku berebut menimpali celotehannya, mengerumuninya, seakan dia lebih pantas berada di sini daripada aku sendiri. Ia berpindah dari satu obrolan ke obrolan lain dengan begitu mudah. Pertengkaran kami semalam, tak meninggalkan jejak apapun pada dirinya. Seolah aku tidak pernah mengatakan—dengan jelas, dengan tegas—bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi. Ia berputar bersama para keponakanku sekarang, roknya bergerak canggung mengikuti langkahnya. Tidak anggun—tidak pernah anggun. Ada noda di sisi roknya. Merah tua. Sirup, mungkin. Salah satu anak pasti menumpahkannya, bahkan ia tidak menyadarinya. Memalukan! Sudah berapa potong kue yang dia makan sekarang? Tiga? Empat? Dia terus kembali, tertawa, mengunyah, berbicara. Seolah makhluk halus merasukinya. In...




