Sayur Sop (Soup)
Pagi itu aku berdiri di tengah pasar yang riuh, setelah menyusuri pasar tradisional ini cukup jauh. Akhirnya aku memilih sebuah lapak yang menjual sayuran segar. Entah apa yang membedakan penjual itu dengan penjual lainnya. Aku hanya memilihnya serampangan. Aku datang untuk berbelanja bahan sayur sop untuk adikku. Ia baru pulang dari luar negeri setelah bertahun-tahun. Dan entah kenapa, dari semua hal yang bisa aku lakukan untuk menyambutnya, aku memilih membuatkannya sayur sop—menu yang Ibu buat setiap hari Minggu di rumah. Tapi, terakhir kali aku memasak sendiri adalah saat cultural night kuliah dulu. Itu sekitar 15 tahun yang lalu. Saat itu, sop buatanku adalah makanan terbaik yang ludes lebih dulu dibandingkan menu lainnya. Aku seharusnya cukup percaya diri untuk membuatnya kembali. “Wortel satu kilo, ya, Bu.” “Kol satu kilo.” “Kentang satu kilo juga.” Aku menyebutkan satu per satu dengan ragu, sambil mencoba terlihat seolah aku tahu apa yang sedang kulakukan. Padahal di dalam kepa...





