Balada Malam Minggu: Bukan Sandiwara
"Sampai kapan ya, kita harus terus menghitung? Satu jam lagi baru balas pesannya, jangan terlalu cepat, nanti dikira nggak punya kerjaan. Jangan terlalu sering ngajak ketemu, nanti dia bosan. Jangan terlalu jujur bilang kalau kita suka, nanti dia besar kepala."
"Lelah juga, kan? Hidup seperti sedang main catur. Setiap langkah harus dipikirin efeknya, setiap kata harus disaring supaya tetap terlihat 'mahal'. Tapi kalau dipikir-pikir... buat apa? Kalau dari awal sudah pakai strategi, berarti yang dia sukai itu strategi kita, bukan 'kita'. Yang dia kagumi itu topeng kita, bukan wajah asli kita."
"Coba deh lebih jujur, apa adanya. Ngobrol biasa. Tanpa taktik. Kalau rindu, ya tinggal bilang. Kalau ingin ketemu, tinggal datang. Tunjukin nilai-nilai yang dipegang teguh, bahkan jika itu terdengar membosankan buat orang lain. Just be yourself."
"Tunjukin deh retakan-retakan dalam diri. Sifat-sifat yang jauh dari kata sempurna. Hal-hal yang biasanya disembunyikan karena malu. Meski pasti ada sedikit rasa cemas, tunjukin aja. Karena kita ingin tahu... jika semua gengsi ini dibuang, jika semua strategi ini dihapus, dan yang tersisa hanya kita yang manusia biasa ini... dua orang tidak sempurna akan jadi apa jika bersama?"
Comments
Post a Comment
Free to speak up is still under circumstances, no violence