Sayur Sop (Soup)
Pagi itu aku berdiri di tengah pasar yang riuh, setelah menyusuri pasar tradisional ini cukup jauh. Akhirnya aku memilih sebuah lapak yang menjual sayuran segar. Entah apa yang membedakan penjual itu dengan penjual lainnya. Aku hanya memilihnya serampangan. Aku datang untuk berbelanja bahan sayur sop untuk adikku.
Ia baru pulang dari luar negeri setelah bertahun-tahun. Dan entah kenapa, dari semua hal yang bisa aku lakukan untuk menyambutnya, aku memilih membuatkannya sayur sop—menu yang Ibu buat setiap hari Minggu di rumah.
Tapi, terakhir kali aku memasak sendiri adalah saat cultural night kuliah dulu. Itu sekitar 15 tahun yang lalu. Saat itu, sop buatanku adalah makanan terbaik yang ludes lebih dulu dibandingkan menu lainnya. Aku seharusnya cukup percaya diri untuk membuatnya kembali.
“Wortel satu kilo, ya, Bu.”
“Kol satu kilo.”
“Kentang satu kilo juga.”
Aku menyebutkan satu per satu dengan ragu, sambil mencoba terlihat seolah aku tahu apa yang sedang kulakukan. Padahal di dalam kepala, aku mulai meragukan satuan yang seharusnya aku pakai. Seharusnya aku riset dulu sebelum datang ke pasar. Tapi aku tidak sempat melakukannya setelah menyetir semalaman karena tugas mendadak ke luar kota.
“Seledri, daun bawang… masing-masing satu kilo juga.”
Ibu penjual itu sempat menatapku agak lama, tapi aku pura-pura tidak menyadarinya. Segera aku menyibukkan diri menelusuri internet, mencari tahu jumlah yang tepat untuk membuat dua porsi sop.
“Dek, ini satu kilo banyak banget loh,” katanya akhirnya.
Aku hanya tersenyum kecil. “Nggak apa-apa, Bu.” Aku terlanjur malu dan tidak tahu harus apa.
Di belakangku, beberapa pelanggan lain mulai berdatangan. Seorang ibu dengan sigap mengambil keranjang dan mengisinya dengan berbagai macam sayuran, lalu meminta pemilik dagangan menghitungnya. Lalu tiba-tiba, seseorang menyela ke depan.
“Bu, saya Cuma beli serai dan daun salam, tiga ribu saja.”
Aku refleks menoleh. Seorang pria muda berdiri di sampingku. Ia juga ikut menoleh ke arahku, lalu tersenyum sopan.
Aku membalas senyumannya.
Ibu penjual langsung menyiapkan pesanannya dengan cepat.
“Maaf, saya cuma belanja sedikit.”
Aku mengangguk, lalu kembali menatap pesananku yang ditumpuk terpisah di hadapan penjual, mulai menggunung.
“Masak apa, Mbak?” tanyanya tiba-tiba.
Aku sedikit terkejut. “Sayur sop,” jawabku singkat.
Dia mengangguk pelan, lalu matanya melirik pesananku.
“Wah… ini mau bikin pesta, ya?”
Aku tertawa kecil, sedikit malu. “Nggak kok. Cuma… buat adik saya.”
“Adik?”
“Iya. Dia baru pulang dari luar negeri.”
“Oh…” ekspresinya berubah, sedikit bingung. “Tapi… kalau cuma buat satu orang, ini kebanyakan banget loh, Mbak.”
Aku terdiam.
Baru saat itu, kata-katanya benar-benar masuk ke kepalaku.
Aku menatap kresek-kresek itu lagi. Wortel, kentang, kol… masing-masing satu kilo.
Rasanya aku ingin tenggelam ke dalam aspal pasar yang becek itu.
“Oh…” Aku tersenyum kaku. “Saya… belum pernah belanja sebelumnya.”
Dia tertawa pelan. Bukan menertawakan, tapi seperti memahami.
“Masak pernah?”
“Pernah. Dulu sekali. Dan… enak.” Aku tak yakin dia akan percaya dengan ucapanku. “Tapi waktu itu bukan saya yang belanja.”
“Ah, pantas.”
Aku menunduk, kembali mencari-cari resep di internet. Satu batang wortel.
SATU BATANG WORTEL.
Mataku melototi sekilo wortel yang tadi aku pesan.
“Sh—”
Sementara itu, ibu penjual menyerahkan bungkusan kecil ke pria itu.
“Serai sama daun salamnya, Mas.”
“Terima kasih, Bu.”
Dia mengeluarkan uang, membayar, lalu menoleh lagi ke arahku—seolah masih ingin mengatakan sesuatu.
Belum sempat ia bicara, seorang wanita paruh baya mendekat dari belakangnya.
“Mas, daun yang Ibu minta ada?”
“Oh, ada, Bu.” Dia menyerahkan bungkusan itu. “Serai sama daun salam.”
Wanita itu mengangguk, lalu matanya sempat melirik ke arahku. Namun aku segera menyibukkan diri, mencari cara untuk membatalkan pesananku yang terlalu banyak itu.
Pria yang dipanggil Abi itu berbicara kepada ibunya, pelan tapi cukup jelas untuk kudengar.
“Bu, bisa bantu Mbak ini nggak?”
Aku langsung terkesiap.
“Bantu apa?” tanya ibunya.
“Dia mau bikin sayur sop, tapi…” Abi melirik ke arah gunungan pesananku yang disisihkan oleh penjual, lalu kembali ke ibunya dengan senyum tipis, “kayaknya dia butuh bantuan ahli.”
Aku membeku sesaat.
Wanita itu mendekat, wajahnya ramah.
“Mau masak sop, Mbak?” tanyanya lembut.
Aku mengangguk. “Iya, Bu. Tapi… sepertinya saya salah beli.”
Beliau tersenyum hangat. “Biar saya bantu.”
Abi berdiri sedikit ke samping, memberi ruang, tapi aku masih bisa merasakan kehadirannya di dekatku.
“Saya Anya,” kataku akhirnya.
Wanita itu mengangguk. “Saya Ibu Rani. Ini anak saya, Abi.”
Abi tersenyum. “Kita ketemu di momen yang tepat, ya.”

Comments
Post a Comment
Free to speak up is still under circumstances, no violence