Tenebrae
Aku memasuki unit apartemen yang telah kusewa untuk satu bulan ke depan. Agen properti mengatakan bahwa unit ini baru saja dikosongkan sekitar sebulan yang lalu. Saat pintu terbuka, aku langsung disambut suasana yang rapi dan siap huni.
Apartemen ini disewakan dalam kondisi full furnished, dengan seluruh perabotan yang sudah lengkap. Aku tidak perlu membawa apa pun selain diriku sendiri dan koper yang kutarik masuk. Agen itu juga menjelaskan bahwa ia telah menyalakan pendingin ruangan, mengganti seprai, mengisi kulkas dengan buah-buahan, serta menyediakan air minum dan berbagai kebutuhan lainnya, agar aku bisa langsung menempatinya tanpa perlu repot menyiapkan apa pun lagi hari ini.
Aku merebahkan tubuhku di sofa yang sudah bersih divakum. Kini aku mendengar dengung pendingin ruangan dan detak jam dinding terasa terlalu nyaring di telingaku.
Aku mematikannya.
Menekan tombol daya pada remote, lalu setelah susah payah naik ke atas meja, aku melepas baterai dari jam dinding.
Sunyi.
Aku kembali duduk di sofa. Setelah mematikan kebisingan di ruangan itu, kini saatnya mematikan kebisingan di dalam kepalaku sendiri.
"Aku rasa aku tidak lagi mencintaimu."
Sial. Suara itu kembali menggema.
Seharusnya aku memukulnya saat itu—setidaknya agar tak ada kata-kata lain yang lebih menyakitkan dari itu.
"Kita sudah tidak sama seperti dulu."
Sampai kapan kepalaku akan terus memutar kenangan-kenangan pahit itu?
Aku membuka tasku. Mengambil botol kecil berlabel putih dengan deretan huruf hitam yang rapat. Kubuka tutupnya, lalu mengeluarkan sebutir pil kecil berwarna biru.
Kutelan tanpa ragu.
Aku hanya perlu bertahan sampai obat itu bekerja.
Namun, pikiranku belum juga melambat.
"Bisakah kamu mengembalikan cincin yang pernah kuberikan?"
Tubuhku mulai terasa hangat. Entah karena obat itu mulai bekerja, atau karena musim yang memang terasa lebih panas dari biasanya. Aah, mungkin karena pendingin udara yang aku matikan.
Aku harus segera berbaring.
Dengan langkah yang semakin berat, aku menyeret tubuhku menuju kamar. Kelopak mataku terasa seperti ditarik ke bawah. Pandanganku mulai mengabur.
Aku meraba gagang pintu, membukanya, dan berusaha melangkah masuk.
Namun—
semuanya terasa ringan.
Terlalu ringan.
Lalu gelap.
Tubuhku seperti melayang sesaat, sebelum akhirnya menghantam sesuatu dengan keras.
Ada cairan hangat mengalir dari hidungku, membasahi wajahku.
Akhirnya kepalaku berhenti memutarkan ingatan suram itu.
Aku bisa tidur sekarang.
-----------------------------------------------------------------------------------
Keesokan paginya, berita ramai membicarakan kematian seorang wanita yang ditemukan tewas setelah terjatuh dari balkon apartemennya. Polisi masih menyelidiki penyebab pasti kejadian tersebut.
Kasihan sekali wanita itu.
Tapi aku harap, dia tenang di alam sana.

Comments
Post a Comment
Free to speak up is still under circumstances, no violence