Tukar



Aku muak padanya.

Aku tidak pernah mengatakannya keras-keras. Tidak pernah. Kalimat itu hidup diam-diam, terselip di tenggorokan

Lihat dia. Tertawa terlalu keras, menggelegar, seolah seluruh ruangan hanya miliknya. 

Sepupu-sepupuku berebut menimpali celotehannya, mengerumuninya, seakan dia lebih pantas berada di sini daripada aku sendiri. Ia berpindah dari satu obrolan ke obrolan lain dengan begitu mudah. Pertengkaran kami semalam, tak meninggalkan jejak apapun pada dirinya. Seolah aku tidak pernah mengatakan—dengan jelas, dengan tegas—bahwa aku sudah tidak mencintainya lagi.

Ia berputar bersama para keponakanku sekarang, roknya bergerak canggung mengikuti langkahnya. Tidak anggun—tidak pernah anggun. Ada noda di sisi roknya. Merah tua. Sirup, mungkin. Salah satu anak pasti menumpahkannya, bahkan ia tidak menyadarinya.

Memalukan!

Sudah berapa potong kue yang dia makan sekarang? Tiga? Empat? Dia terus kembali, tertawa, mengunyah, berbicara. Seolah makhluk halus merasukinya.

Ingatan pertengkaran semalam kembali, tanpa diminta.

“Aku sudah tidak mencintaimu, Paige” kataku.

Dia menangis. Itu justru yang paling menyebalkan. Dia menangisi banyak hal!

“Bukan cintanya yang hilang. Ini cuma fase!”

Fase.

Seolah cinta bisa terselip di sela-sela hari, lalu ditemukan kembali seperti benda hilang.

"Aku mencintai wanita lain!" seruku cepat.

Ia terdiam dengan air mata masih terurai. 

Ia mencoba mengatur nafasnya yang mulai tersenggal.

"Dia ...."

 Aku tak meneruskan kalimatku melihat isyarat telunjuk darinya. Dia sepertinya butuh waktu untuk memproses informasi yang baru saja aku berikan.

"Cukup, Adrian! Aku mengerti! Tapi kamu tak akan aku biarkan pergi!" katanya lalu meninggalkanku sendiri.

Aku menghela napas dan meraih botol wine yang kubeli bersama Hannah. Mahal. Layak untuk acara ini. Acara terakhir kami.

Ruang tamu ini dipenuhi keluarga dan wajah-wajah familiar. Ada delapan orang dewasa. Kedua orang tuaku, aku, Paige, adikku dan istrinya, Oma dan Hannah.

Delapan gelas.

Aku menuangkannya satu per satu. Cairan merah gelap itu memantulkan cahaya lampu. Aku membagikannya pada setiap orang. Pada gelas terakhir, aku menjentikkan sesuatu. Kudorong gelas wine spesial itu ke arahnya. Dia tersenyum sendu seolah tahu aku memasukkan racun kedalamnya. Atau dia merasa kesal dengan sisa tetesan wine di atas meja?

"Aku ambil tissue untuk menyekanya!" kataku cepat.

Segera aku mengambil tissue di atas meja lalu menyeka tetesan wine sebelum menjadi noda.

Aku raih gelasku dan mengangkatnya tinggi-tinggi. "Untuk kita", seruku lantang. 

Semua orang mengayunkan gelas, menyerukan hal yang sama, lalu menyesapnya. 

Aku turut menyesap wineku sedikit. Rasa pahitnya menjalar di lidahku. Tiba-tiba kakiku tak lagi bisa menopang tubuhku. Aku terduduk dan punggungku bersandar tegak. Sedikit-demi sedikit aku merasakan otot tubuhku menegang.

Aku lihat Paige menatapku. Bibirnya bergerak tanpa suara. "Maaf!"

Dia meninggalkanku untuk menghampiri kedua orang tuaku kembali bersenda gurau. 

Seorang anak berteriak bahwa aku menumpahkan minuman. Ayahku menghampiriku dengan khawatir. Dia mengguncang tubuhku, namun aku tak bisa merespon apapun. 

Seketika suasana menjadi kacau. Paige panik. Sementara Hannah nampak bingung. Mereka menelepon ambulans. Aku berusaha tetap terjaga, namun kini saluran nafasku seperti menyempit. Aku tidak lagi bisa menarik nafas dengan mudah.

Mulutku terbuka, bibirku membiru.

Paige yang memijiti tanganku sambil berlinang air mata bergumam pelan.

"Aku membaca Quora, dan menukar gelas wine kita!"

Nafasnya tercekat.

"Jika kamu ingin pergi, pergilah. Aku masih ingin hidup." serunya lagi pelan.



---

Epilog

Ambulans datang berbarengan dengan sirine polisi.

Mereka memasang pita polisi, memisahkan gelas dan botol wine dari perabot lain. 

"Siapa yang membeli wine ini?"

"Adrian yang menyiapkannya." jawab Paige pelan.

Beberapa orang mengambil sidik jari orang yang ada di sana. Sebagian lainnya mengumpulkan sidik jari dari gelas dan botol.

Masing-masing gelas hanya ada sidik jari Adrian dan pemilik gelas. Tapi pada botol wine, ada sidik jari Hannah.

Polisi menggeledah dompet Adrian. Tak ada bukti pembelian wine pada kartu kredit ataupun transaksi elektronik Adrian. Kemudian Polisi memeriksa Hannah lebih seksama. Ditemukan bukti pembelian wine pada transaksi perbankan Hannah dan satu strip bubuk yang diselipkan pada pelindung ponselnya.

"Bukan aku! Aku tidak membunuh Adrian! Seharusnya, Paige yang mati!"

Semua orang terpaku. Anak-anak kecil segera dialihkan ke lantai dua oleh dua orang polisi wanita.

"Apa kamu wanita yang sering mengirimi Adrian foto?" tanya Paige pelan.

Hannah terdiam. Dia sepertinya faham bahwa ia masuk perangkap.

Polisi memeriksa ponsel Adrian. Ada beberapa foto sensual yang dikirimkan nomor tak dikenal malam ini. Polisi meneleponnya dan ponsel Hannah berbunyi nyaring.

"Tidak! Dia menjebakku! Aku tidak membunuh Adrian, aku mencintai Adrian!"

Polisi memborgol tangan Hannah lalu membawanya ke kantor polisi.



Comments

Popular Posts